Direktur PMD Keberlanjutan PID Perlu Chemistry

Direktur PMD Keberlanjutan PID

ArjunaNews, JAKARTA – Direktur PMD Keberlanjutan PID perlu Chemistry Kompetensi bagi pelakunya. Program Inovasi Desa yang dimandatkan di Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Desa, Ditjen PPMD, Kemendes PDTT sejak 2017 akan berakhir Desember 2019.

Selama tiga tahun perjalanan program tersebut keberadaannya dinilai sangat mengesankan, karena  selain bertujuan untuk meningkatkan sisi kualitas-inovatif dalam konteks penggunaan Dana Desa.

Selanjutnya, program tersebut juga terbukti memberikan  dampak positif bagi percepatan peningkatan ekonomi masyarakat desa.

Demikian rilis Direktur PMD, M. Fachri dalam agenda penutupan  kegiatan Workshop Konsultasi dan Finalisasi Exit Strategy dan Standar Operasional Prosedur Hubungan antar Pihak (SOP-HAP) Program Inovasi Desa di Jakarta, Jumat (27/9/2019). 

Lahirnya Program Inovasi Desa

Lebih jauh Fachri menyatakan,  sejak lahirnya PID, program tersebut tidak sedikit mengalami tantangan, mulai model disain program, implementasi hingga evaluasi program. 
“Alhamdulillah, semua itu dapat dilalui dengan baik. Namun sayangnya, begitu program ini mulai running, tahun 2019 ini segera berakhir,” ujarnya. 

Selain PID, Kemendes PDTT juga memiliki Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa yang merupakan program induk dari pendampingan desa.

Dalam wadah inilah seluruh TPP yang tersebar di seluruh Indonesia  berhimpun dalam melaksanakan tugas dan fungsi fasilitasi desa yang kreatif dan inovatif.  

Untuk menjamin keberlanjutan program, lanjut M. Fachri, dibutuhkan exit strategy program sebelum pengakhiran program tersebut. 

“Sekarang ini sedang dilakukan langkah penyiapan program P3PD. Program ini menjadi  kelanjutan dari PID yang merupakan program kolaboratif antara Kemendagri dan Kemendes PDTT. P3PD bukan untuk  menggantikan P3MD, tapi lanjutan dari PID,” jelasnya. 

Kata M.Fachri, semua komponen proyek PID yang dianggap sangat bermanfaat bagi masyarakat, akan dilanjutkan bahkan ditingkatkan pada program P3PD.

Ditambahkan, program PID dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas penggunaan Dana Desa, sedangkan program P3PD lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas belanja desa. 

Oleh sebab itu, lanjut M. Fachri, sebelum P3PD running awal tahun 2020, diharapkan telah  terbangun chemistry, koneksitas, dan kompetensi dengan baik diantara pelaku program. PID Telah Banyak Memberi Referensi Inovatif Bagi Desa

“Semua aspek tersebut perlu mendapat perhatian dari seluruh pelaku program, sehingga nantinya dapat berjalan dengan baik”, tegasnya. 


Exit Strategy PID

Fachri berharap agar dalam sisa waktu 3 (tiga) bulan ini, seluruh pelaku program dan stakehokder terkait diminta memaksimalkan replikasi PID yang telah difasilitasi dalam musyawarah desa, sehingga dapat tercantum dalam APBDes. 

“Ini membutuhkan pengawalan dari semua pihak, baik Tenaga Pendamping di Tingkat Provinsi hingga Tingkat  Desa, Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID), dan Tim Inovasi Kabupaten (TIK). Replikasi di APBDes mestinya mencapai 10 sampai 20 kali lipat dari nilai DOK (dana TPID dan TIK) yang diterima setiap provinsi”, tegasnya. 

Terkait exit strategy PID, lanjut Fachri, keberadaan P2KTD dan TIK sebaiknya dilebur menjadi satu lembaga dan dihimpun di sekretariat bersama. Sebab, P2KTD dan TIK memiliki fungsi yang sama, yakni sebagai teknik lokal sistem di desa. https://www.kabardesa.com/2018/09/22/4593/tenaga-ahli-p3md-pid-kabupaten-pakpak-bharat-fasilitasi-program-inovasi-desa
Dalam acara tersebut, ditegaskan Direktur PMD Keberlanjutan PID perlu chemistry kompetensi. Penutupan selain dihadiri oleh  Kasubdit PKMD Nursaid Mustafa, para PIU PID dan Tim Bank Dunia.

Juga diikuti oleh unsur Tenaga Ahli Konsultan Nasional, Program Leader KN-PID dan KN-P3MD, serta perwakilan TA PID dari 33 provinsi. (rilis)